
Oleh: Ustaz Anshari Taslim
Jalan juang ulama. Tetap Teguh Meski Digoreng Beneran.
Mungkin tak banyak yang tahu bagaimana perjuangan kemerdekaan Al-Jaza`ir sejak pecah revolusi bersenjata mulai tahun 1954 dan berakhir dgn kemerdekaan mereka dari Prancis tahun 1962.
Dalam revolusi selama 8 tahun itu 1.500.000 warga muslim Al-Jaza`ir dibunuh oleh penjajah Perancis. Di awal revolusi Prancis membunuh 45 ribu warga sipil dalam satu pekan. Jauh lebih banyak dan mengerikan dibanding G4z4 saat ini.
Alhamdulillah saat itu Prancis belum terpikir menyewa buzzer bersurban dan berjenggot, kalau tidak tentu sudah ada fatwa bahwa jihad Al-Jaza`ir kala itu tidak syar'i dan jihad di jalan setan karena melawan dalam kondisi lemah tak punya pesawat tempur dan nuklir.
Tapi apa sikap para ulama kala itu?
Kita akan menemukan nama sebuah organisasi asosiasi ulama bernama "Jam'iyyatu Ulama Al-Muslimin Al-Jaza`iriyyin" yg didirikan oleh Syekh Abdul Hamid Badis.
Baik, singkat saja, kali ini saya ingin menyoroti seorang ulama dari organisasi tersebut bernama Al-'Arabi At-Tibsi.
Beliau menjadi ketua harian organisasi tersebut setelah ketua sebelumnya Syekh Basyir Al-Ibrahimi hijrah ke Mesir dan mengobarkan revolusi dari luar.
Syekh ini cukup terpandang di kotanya sampai pemerintah Perancis pun agak segan mengganggunya, tapi karena dia selalu memfatwakan jihad melawan Perancis dan mendukung pejuang revolusi maka lama kelamaan Perancis gerah juga sampai akhirnya pada tahun 1957 pemerintah Perancis menculiknya dari rumahnya pada bulan Ramadhan padahal beliau yang kala itu berusia 66 tahun sedang sakit keras, tapi ibarat PKI tentara Prancis yg mendobrak rumahnya langsung menyeretnya tanpa sempat memakai surban dan sandal. Sehingga beliau diseret ke jalan dan dibawa ke suatu tempat.
Sebenarnya sudah banyak yg menawarkannya untuk mengungsi ke luar negeri tapi beliau berkata, "Kalau semua ulama keluar, lalu siapa lagi yang akan tinggal di negeri ini."
Sejak lama pemerintah Prancis meminta beliau untuk menjadi jembatan antara pemerintah dgn pejuang yg mereka sebut pemberontak kala itu. Tapi beliau tidak mau dan malah mendukung jihad pemberontak.
Maka kali ini beliau disiksa oleh tentara Prancis bersama pasukan bayaran dari Sinegal, dipaksa untuk menyatakan perdamaian dengan penjajah dan agar pejuang gerilya kala itu menghentikan serangan kepada pos pasukan Prancis.
Beliau tetap tak mau sampai akhirnya dipanaskanlah oli dan minyak dalam sebuah kuali besar, lalu Syekh Arabi At-Tibsi ini digantung berdiri lalu diancam akan dimasukkan ke dalam minyak yg telah berasap itu. Tapi beliau malah mengucapkan:
أشهد أن لا إله إلا الله
Maka tentara Sinegal yg jadi eksekutor emosi lalu menurunkan tali dan kaki beliaupun menyentuh minyak itu. Seketika beliaupun tak sadarkan diri saking sakitnya, apalagi memang kondisinya kala itu sedang sakit.
Melihat At-Tibsi pingsan mereka makin marah dan akhirnya mencelupkan seluruh tubuhnya ke dalam minyak mendidih itu dan tubuhnya ketika diangkat berguguran satu persatu, karena telah meleleh.
MAkanya Syekh Arabi At-Tibsi tak ada kuburannya, karena tubuhnya meleleh akibat digoreng penjajah Prancis.
Ulama rabbani itu selalu bersama para pejuang, meski tak ikut angkat senjata dia berjuang dengan ilmu, kitab, dan fatmanya.
Posting Komentar untuk "Perjuangan Syekh Al-'Arabi At-Tibsi Melawan Penjajah Prancis"