
Oleh: Ustaz Akmal Sjafril
Ketika menyaksikan perhelatan Olimpiade di Paris tempo hari, saya tidak membayangkan bahwa hari ini Perancis akan mengalami ketegangan dengan Israel. Kenyataannya, itulah yang sedang terjadi.
Tanda-tandanya sudah terlihat ketika April lalu, Emmanuel Macron, Presiden Perancis, menyatakan bahwa AS tidak lagi memprioritaskan Eropa, dan karenanya, Perancis harus memprioritaskan dirinya sendiri. Ini adalah cara halus untuk mengatakan, "Hei AS, kami nggak selalu harus mengikuti kamu!" Pada bulan Oktober, Macron menyerukan dunia untuk melarang penjualan senjata kepada Israel; sebuah pernyataan yang menciptakan keretakan hubungan di antara kedua negara.
Pagi tadi, saya menerima tiga berita seru lainnya dari negeri yang sama. Pertama, tentang fans klub sepakbola PSG yang mengibarkan spanduk raksasa yang menyatakan dukungannya terhadap Palestina. Kedua, tentang anggota parlemen Perancis, Mathilde Panot, yang menyemprot pemerintah negerinya karena menyambut Menteri Keuangan Israel, Bezalel Smotrich, yang disebut Panot sebagai seorang fasis. Komentar keras Panot ini disambut dengan tepuk tangan oleh banyak anggota parlemen lainnya. Kabar ketiga adalah dibatalkannya kunjungan Menteri Luar Negeri Perancis, Jean-Noel Barrot, ke komplek Gereja Eleona di Yerusalem. Gereja ini telah dipercayakan pengurusannya kepada Perancis sejak lebih dari 150 tahun silam. Pembatalan ini terjadi karena tentara Israel memasuki komplek gereja dengan membawa senjata api, sehingga memicu bentrokan dengan pihak keamanan Perancis.
Berita menarik lainnya datang dari Amsterdam. Fans klub sepakbola Maccabi Tel Aviv, yang timnya tampil berhadapan dengan Ajax, menyulut kerusuhan dengan aksi rasis mereka terhadap Palestina. Warga Amsterdam merespon dengan melakukan penyerangan terhadap para perusuh itu.
Melihat perkembangan di atas, Israel nampaknya semakin mendekati 'pariah state' (negara musuh bersama). Kita hanya berharap kepada Allah SWT, namun pertolongan bisa datang dari mana saja dan setiap kesempatan harus dimanfaatkan.
Posting Komentar untuk "Pariah State"